RINGKASAN DISKUSI
DIALOG LAYANAN JASA KEBANKSENTRALAN
MENGUBAH DEFINISI KETANGGUHAN: KESIAPAN BANK SENTRAL MENGHADAPI GANGGUAN PENYELESAIAN TRANSAKSI LINTAS NEGARA
Jakarta, 28 Agustus 2025
Dialog Layanan Jasa Kebanksentralan ke-3 berlangsung di Hotel Ayana, Jakarta, pada tanggal 28 Agustus 2025. Dialog ini secara resmi dibuka oleh Bapak Herawanto, Direktur Eksekutif Bank Indonesia (BI), dan difasilitasi oleh Bapak Nukman Taufik serta Bapak Fatkhurahman dari Bank Indonesia untuk setiap sesi. Acara ini mempertemukan pejabat dari enam bank sentral dan ditutup oleh Ibu Lia Sari Oktara, Deputi Direktur Bank Indonesia.
Kelancaran arus dana lintas negara menjadi pilar fundamental stabilitas ekonomi global. Di era yang ditandai dengan ketidakpastian geopolitik, volatilitas ekonomi, serta risiko operasional, ketangguhan sistem penyelesaian transaksi lintas negara menjadi semakin krusial. Gangguan pada sistem vital ini dapat berdampak luas, langsung memengaruhi perdagangan internasional, arus modal, serta kesejahteraan rumah tangga melalui remitansi pekerja migran.
Dari pengalaman lintas yurisdiksi, dialog ini menekankan bahwa ketangguhan sistem penyelesaian transaksi harus dikembangkan pada dua dimensi utama: kesiapan operasional untuk menghadapi gangguan jangka pendek, dan penyelarasan strategis dengan standar global guna memastikan interoperabilitas jangka panjang.
Dua studi kasus memberikan wawasan berharga terkait praktik terbaik. Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) menekankan pentingnya redundansi dan adaptabilitas untuk menjaga keberlangsungan penyelesaian transaksi lintas negara di masa penuh tantangan. Sementara itu, National Bank of Cambodia (NBC) menyoroti urgensi adopsi standar global ISO 20022, mengingat SWIFT akan menghentikan dukungan untuk format lama MT pada November 2025.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa membangun ketangguhan komprehensif dalam sistem penyelesaian lintas negara membutuhkan pendekatan multifaset mencakup tiga elemen utama: memperkuat infrastruktur dan kesiapan SDM menghadapi potensi gangguan, memastikan koordinasi efektif dengan pelaku pasar dan otoritas pengawas, serta menjaga keselarasan dengan standar internasional untuk menopang interoperabilitas global jangka panjang.
Pelajaran dari BSP dan NBC memberikan peta jalan bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar untuk memperkuat kesiapan sekaligus adaptabilitas sistem keuangan, sehingga tidak hanya melindungi penyelesaian lintas negara, tetapi juga stabilitas ekonomi dan penghidupan masyarakat yang bergantung padanya.
Bapak Kyoung Ho Park dari Bank of Korea (BoK) menyampaikan gambaran komprehensif mengenai peran penting BoK dalam mendukung penyelesaian pembayaran internasional dan transaksi lintas negara. Bank of Korea berfungsi sebagai agen perantara utama yang memastikan kelancaran transfer dana melalui sistem penyelesaian canggih BOK-Wire+, sekaligus menjaga konektivitas dengan infrastruktur internasional penting seperti sistem Continuous Linked Settlement (CLS).
Dalam kerangka operasionalnya, BoK mengelola portofolio tanggung jawab yang luas, termasuk pinjaman, layanan kustodian, operasi sekuritas, transaksi valuta asing, manajemen cadangan, serta koordinasi sistem pembayaran. Semua fungsi ini dikelola lintas tim spesialis untuk menjamin efisiensi dan keandalan optimal.
Presentasi menjelaskan berbagai metode penyelesaian transaksi yang tersedia. Untuk transaksi pembayaran tunai, bank sentral dapat membeli valuta asing (misalnya USD terhadap KRW) melalui tiga jalur: langsung lewat BOK-Wire+, melalui Bank Lembaga Keuangan Terdaftar (RFI) dengan Co Bank Seoul sebagai agen penyelesaian KRW lokal, atau melalui korespondensi bank jika akun langsung tidak tersedia. Hal yang sama berlaku saat menerima pembayaran tunai (menjual USD untuk KRW), dengan ketiga jalur operasional yang memberikan fleksibilitas sekaligus redundansi dalam pemrosesan transaksi.
Ibu Elyana Widyasari dari Departemen Internasional Bank Indonesia berbagi wawasan tentang kerangka Local Currency Transaction (LCT), sebuah inisiatif strategis untuk memperkuat ketahanan keuangan, mengurangi ketergantungan pada mata uang asing, serta meningkatkan kemampuan penyelesaian lintas negara. Kerangka LCT bertujuan meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan domestik, menurunkan biaya transaksi, dan mendorong diversifikasi mata uang dalam perdagangan serta investasi internasional.
Diskusi menjabarkan fitur komprehensif dan mekanisme operasional LCT, termasuk fleksibilitas dalam administrasi devisa, protokol pengawasan yang kuat, serta penunjukan bank khusus (Authorized Cross-Currency Dealers/ACCDs) untuk memfasilitasi transaksi mata uang lokal. Kerangka ini mendukung berbagai transaksi dasar seperti pembiayaan perdagangan, transfer pendapatan, investasi langsung, dan layanan remitansi.
Implementasi LCT menunjukkan perkembangan signifikan. Indonesia telah menjalin kerja sama dengan Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Rencana perluasan ke depan mencakup Singapura dan India, mencerminkan penerimaan dan manfaat internasional yang semakin meluas.
Dialog menekankan visi strategis yang lebih luas melalui ASEAN Payment Connectivity, dengan strategi meliputi pembayaran cepat lintas negara berbasis QR code, standardisasi API, penyelarasan kerangka regulasi, serta penguatan kerja sama bank sentral. Integrasi regional ini bertujuan melindungi kepentingan nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan.
Bapak Daniel Eidan dari Bank for International Settlements memaparkan Project Agorá, sebuah eksperimen inovatif yang dirancang untuk merevolusi proses pembayaran lintas negara. Proyek ini memperkenalkan konsep unified ledger—infrastruktur keuangan terprogram yang mengintegrasikan uang bank sentral yang ditokenisasi, uang bank komersial, dan aset ter-tokenisasi pada satu platform terpadu.
Inovasi inti dari Project Agorá adalah mempertahankan kepercayaan dan integritas struktural dari sistem perbankan koresponden, sembari memperkuatnya dengan teknologi canggih yang memungkinkan aturan, persyaratan kepatuhan, dan informasi transaksi tertanam langsung dalam proses pembayaran. Kemajuan teknologi ini diharapkan membuat pembayaran lintas negara jauh lebih cepat, hemat biaya, transparan, sekaligus mengurangi risiko bagi konsumen dan lembaga keuangan.
Project Agorá dibangun di atas model kolaborasi yang kuat, melibatkan bank sentral dan lebih dari 40 institusi swasta di seluruh dunia, untuk memastikan masukan beragam, uji coba komprehensif, serta validasi kelayakan teknis dalam berbagai lingkungan operasional dan kerangka regulasi.
Penting untuk dicatat, proyek ini menekankan perlindungan atas kebijakan akses bank sentral dan jaminan hukum yang ada, sembari membuka efisiensi operasional yang sebelumnya sulit dicapai sistem pembayaran tradisional. Pendekatan seimbang ini memastikan kepatuhan regulasi sekaligus mendorong inovasi dalam infrastruktur pembayaran lintas negara.
Sesi penutup menyoroti tiga poin penting dari dialog:
Pentingnya inovasi – Teknologi baru seperti tokenisasi, unified ledger, dan solusi canggih lainnya dapat meningkatkan efisiensi, transparansi, serta keamanan pembayaran lintas negara, tanpa mengurangi peran penting lembaga keuangan sebagai perantara tepercaya.
Penguatan keberlanjutan bisnis – Melalui mekanisme praktis yang sudah berjalan, seperti keterhubungan pembayaran ritel dan grosir, sistem penyelesaian mata uang lokal, serta infrastruktur pesan keuangan yang aman, ketangguhan dan keandalan dapat ditingkatkan dalam lingkungan operasional nyata.
Urgensi kolaborasi – Tidak ada satu negara atau lembaga pun yang mampu membangun ketahanan keuangan secara menyeluruh sendirian. Standar internasional bersama, interoperabilitas yang lebih baik, serta kepercayaan timbal balik merupakan komponen esensial untuk menciptakan ekosistem pembayaran global yang tangguh dan andal.
Dialog ditutup dengan seruan kuat untuk membawa semangat inovasi, disiplin operasional, dan kerja sama internasional demi memastikan sistem pembayaran lintas negara menjadi semakin inklusif, aman, serta tangguh menghadapi tantangan dan ketidakpastian di masa depan.
Penyelenggara menyampaikan apresiasi tulus kepada seluruh pejabat dan institusi yang berpartisipasi atas keterlibatan aktif, kontribusi berharga, serta diskusi konstruktif selama dialog berlangsung. Semangat kolaborasi yang ditunjukkan mencerminkan kerja sama internasional yang sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan kompleks dalam sistem pembayaran lintas negara modern.